GIZIMU

Penelusuran Referensi Pangan dan Gizi

Gizi bagi Ibu Menyusui


Ikatan antara ibu dan bayi dibentuk melalui pemberian ASI. Pada waktu sekresi ASI, terjadi pelepasan oksitosin, yaitu hormon yang merangsang uterus berkontraksi. Kontraksi uterus membantu berhentinya perdarahan yang terjadi pada masa nifas. Sebagian besar ibu secara biologis dapat menyususi bayinya, akan tetapi secara psikologis tidak semua ibu dapat sukses menyusui. Agar ibu sukses menyususi perlu memperoleh dorongan sosial dan emosional dari keluarga dan lingkungannya.

Partisipasi ayah untuk mendorong pemberian ASI pada bayi umumnya rendah sekali. Kebanyakan bayi harus diberikan ASI atau diganti popoknya  setelah 2 – 3 jam, maka ibu bayi akan mengalami kelelahan.  Ketidak nyamanan ini dapat berkurang bila ada anggota keluarga lain yang ikut berpartisipasi merawat bayi. Misalnya pada waktu bayi telah kenyang dan ASI masih keluar, maka sisa ASI dapat terus dikeluarkan dan diberikan bayi pada waktu minum berikutnya. Pada pemberian ini ayah atau anggota keluarga lainnya dapat mengganti ibu memberikan ASI dengan sendok.

Ibu mempersiapkan ASI sejak masa hamil. Lemak disimpan dalam jaringan payudara, peredaran darah dan infiltrasi syaraf dalam payudara. ASI yang diproduksi pada 3 hari pertama (kolostrum) atau sesudah melahirkan berbeda dengan yang diproduksi belakangan. Pada waktu ini ASI mengandung banyak protein, mineral dan antibodi. ASI yang keluar pad awal menyususi mempunyai kandungan lemak lebih rendah dari pada protein, hal ini sangat membantu pencernaan bayi.

 KEBUTUHAN ENERGI DAN ZAT GIZI

Air susu ibu mengandung zat antibodi dan lebih mudah diabsorpsi dari pada pengganti ASI. Ibu menyusui yang sehat dapat menghasilkan 850 ml – 1200 ml ASI setiap hari. Kandungan energi setiap 100 cc ASI adalah 67 Kkal, asupan energi yang tinggi  tidak akan meningkatkan produksi energi pada  ASI. Sebaliknya asupan energi yang kurang juga tidak akan menurunkan kandungan energi ASI. Pada keadaan ini cadangan energi ibu diambil, sehingga ibu menyususi yang asupan energinya tidak cukup dapat jatuh pada keadaan kekurangan energi, karena cadangan energinya dipakai untuk memenuhi kebutuhan memproduksi ASI yang kandungan energinya telah standar tersebut.

Pada 6 bulan pertama menyusui asupan energi ibu perlu ditambah 500 Kkal/hari. Pada 6 bulan berikutnya tambahan energi adalah 400 Kkal/hari. Bila pada 3 bulan pertama menyusui penurunan berat badan ibu sangat berlebihan, atau berat badan turun  di atas 0.5kg/minggu dapat menurunkan produksi ASI. Pada keadaan ini  asupan energi perlu ditingkatkan agar  produksi ASI dan status gizi ibu tetap berada pada taraf normal. Bagi ibu hamil remaja atau yang berumur > 35 tahun mempunyai kebutuhan yang berbeda, sehingga memerlukan perhatian khusus.

Kebutuhan protein perlu ditambah sebanyak 15 g/hari, khususnya protein yang mempunyai nilai biologi tinggi. Kandungan protein dan lemak ASI hanya sedikit berbeda bila dikatikan dengan makanan ibu, tetapi jenis lemak yang ada dapat sangat bervariasi tergantung asupan lemak ibu. Bila ibu menyusui banyak mengonsumsi lemak nabati dari pada lemak hewani, maka ASI yang diproduksi banyak mengandung lemak tidak jenuh. Walaupun demikian, tidak semua  apa yang dimakan ibu mempunyai efek langsung terhadap ASI yang dihasilkan. Seperti kepercayaan bahwa bila ibu makan ikan ASI akan amis adalah tidak benar.

Kebutuhan vitamin dan mineral ibu menyusui bertambah seiring meningkatnya kebutuhan energi dan protein. Kandungan vitamin misalnya vitamin C dan asam folat dalam ASI tergantung pada asupan ibu menyusui. Namun demikian pemberian suplementasi vitamin A dan D juga perlu dierhatikan jangan sampai terjadi hipervitaminosis. Kandungan zink dan iodium dalam ASI juga  merupakan gambaran apa yang dikonsumsi oleh ibu.

Beberapa bayi ada yang sensitif terhadap makanan tertentu yang dikonsumsi ibunya dan ditransfer melalui ASI. Di Negara Barat kebanyakan bayi sensitif terhadap selei kacang tanah, coklat, putih telur dan biji-bijian lain yang dikonsumsi ibunya. Bagaimana mekanismenya tidak diketahui secara pasti dan hal ini hanya didapat berdasarkan pengalaman saja. Keadaan inilah yang mungkin juga mendasari pengalaman orang-orang tua yang melarang untuk mengkonsumsi cabai atau makanan yang pedas yang dapat menyebabkan anak diare atau sakit perut. Oleh karena itu bagi ibu menyusui sebaiknya mencoba makanan baru dalam jumlah sedikit saja, untuk melihat apakah bayinya sensitif atau tidak.

Substansi selain zat gizi seperti obat atau minuman tertentu ada yang berpengaruh pada produksi  dan juga ada yang disekresi melalui ASI, seperti  cafein pada kopi dan akohol. Oleh karena itu ibu menyusui yang minum kopi berlebihan ( > 10 cangkir/hari) akan menyebabkan bayi mudah gugup (Jitter). Begitu juga dengan ibu yang minum alkohol akan ditranfer memalui ASI walaupun hanya minum  dalam jumlah yang sedikit. Asap rokok juga dapat menurunkan produksi ASI.

Banyak kontaminan lingkungan seperti DDT dan Chloredane ditemukan di dalam ASI. Kontaminan tersebut bersifat larut di dalam lemak, sehingga jika masuk di dalam tubuh ibu akan tersimpan pada jaringan lemak. Pada waktu jaringan lemak ibu dipecah untuk menghasilkan ASI, maka kontaminan yang tersimpan tersebut akan masuk ke dalam ASI.

Ibu menyusui perlu memperoleh penjelasan bagaimana merawat diri agar dapat memproduksi ASI dalam jumlah yang cukup untuk bayinya. Ibu menyusui perlu memperoleh dorongan untuk memperoleh berat badan yang normal setelah melahirkan, sambil ibu tetap menyusui bayinya. Namun demikian bukan berarti ibu memperoleh makanan yang rendah kalori untuk menurunkan berat badannya. Bila memungkinkan hindari coklat, makanan yang menghasilkan gas dan makanan yang berbumbu tajam, karena makanan jenis ini sering menimbulkan gangguan pada pencernaan.

MASALAH GIZI PADA IBU MENYUSUI

Sebenarnya tidak ada masalah gizi serius yang menghambat kebiasaan menyusui. Hanya saja Ibu menyusui dengan menderita KEK yang hanya sedikit produksi ASI-nya (produksi ASI antara 450 – 560 cc /hari). Hal ini berbeda dengan ibu menyusui dengan status gizi baik yang dapat menghasilkan ASI antara 850 – 1200 cc/hari. Kekurangan gizi selama menyusui selain menurunkan volume juga kandungan protein ASI. Adanya penyakit infeksi akut seperti influensa misalnya tidak akan mengganggu  kegiatan menyusui.

Ibu menyusui yang obese atau kelebihan gizi, tidak dianjurkan mengurangi asupan energi dan zat gizi secara drastis. Program penurunan berat badan tetap harus memperhatikan kebutuhan ibu untuk memproduksi ASI dalam jumlah dan kualitas yang cukup. Sebaiknya ibu tetap menyusui sampai anak usia 2 tahun, namun demikian dengan alasan medis yang kuat paling tidak anak tetap memperoleh ASI selama tahun pertama kehidupannya.

 

SUSUNAN MAKANAN SEHAT BAGI IBU MENYUSUI

Pola makan bagi ibu  menyusui sebenarnya sama saja dengan orang sehat lainnya. Perbedaan terutama pada jumlah, sedangkan kualitas sama saja, karena setiap orang dianjurkan makan dengan kualitas yang baik. Mengingat bahwa tidak ada satupun bahan makanan yang mempunyai kandungan zat gizi yang lengkap, maka makan berbagai macam bahan makanan sangat menguntungkan. Dengan demikian akan saling melengkapi dan akhirnya menghasilkan susunan makanan yang memenuhi syarat gizi.

Tidak ada pantangan makan bagi ibu  menyusui, kecuali bila karena adanya penyakit tertentu. Pantangan yang dianjurkan oleh orang-orang tua biasanya tidak mempunyai dasar ilmiah. Ibu menyususi harus mengkonsumsi makan yang seimbang, yaitu yang menyediakan energi dan zat gizi sesuai dengan kebutuhannya. Sebagi contoh susunan makan untuk ibu menyusui dengan berat badan dan tinggi badan rata-rata adalah sebagai berikut;

Makan Pagi (Pk. 07.00) :

Nasi  ¾   piring  ( 150 g)

Orak- arik buncis dan wortel  ½ mangkok

Tempe goreng 1 potong

 

Jajanan (Pk 10 .00)

Bubur kacang hijau 1 gelas

 

Makan siang (Pk 12.00)

Nasi 1 ½    piring ( 300 g)

Sayur bening bayam dan labu siap 1 mangkok

Ikan masak  1 potong ( 75 g)

Tahu goreng balado 2 potong (100 g)

Pepaya 1 potong ( 150 g)

 

Jajanan ( Pk 16.00)

Pisang goreng 2 potong

Teh manis 1 gelas

 

Makan malam ( Pk 17.00)

Nasi 1 ½ piring ( 300 g)

Tumis kangkung 1 mangkok

Semur kacang merah ¼  mangkok

Ikan goreng 1 potong (75 g)

Pisang susu 2 bj (100 g)

Bila mungking minum susu hangat 1 (satu) gelas sebelum tidur

 

Sumber : Sri’ah Al Harini, SKM, M.Kes (2004), Gizi bagi Ibu Menyusui, Bahan ajar mata kuliah Ilmu Gizi dalam Daur Kehidupan, Jurusan Gizi Poltekkes Makassar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 1 November 2011 by in Gizi Daur, Ibu Menyusui and tagged , , .

LINK KE SIGIZI

%d bloggers like this: