GIZIMU

Penelusuran Referensi Pangan dan Gizi

Interaksi Obat dengan Makanan


Hasil kerja obat di dalam tubuh kita memang sangat mungkin dipengaruhi oleh makanan atau minuman yang kita konsumsi. Hal tersebut dikenal dengan istilah interaksi obat-makanan. Selain dengan makanan, berbagai obat yang kita konsumsi pada saat bersamaan juga dapat saling berinteraksi satu sama lain. interaksi obat-makanan atau interaksi antar obat ini dapat mengurangi khasiat atau kemanjuran obat, bahkan dapat menimbulkan efek yang membahayakan pasien.

Jumlah obat resep dalam tubuh kita harus cukup tinggi untuk membantu menyerang penyakit yang bersangkutan, tetapi cukup rendah agar menghindari munculnya terlalu banyak efek samping. Obat lain, baik non-resep atau narkoba, jamu, atau bahkan makanan kadang kala mengakibatkan perubahan besar pada jumlah suatu obat dalam aliran darah kita. Overdosis (dosis terlalu tinggi) dapat mengakibatkan efek samping yang parah. Dosis terlalu rendah dapat berarti obat tersebut tidak berhasil.

Tubuh kita mengenal obat sebagai ‘bahan asing.’ Jadi obat diuraikan oleh tubuh, biasanya sebagai air seni atau kotoran (air besar). Banyak obat dikeluarkan tanpa  masalah oleh ginjal, dan keluar dari tubuh dalam air seni. obat lain harus diuraiakan oleh hati kita. Bahan kimia (yang disebut enzim) di hati mengubah molekul obat. Hasil dari proses ini dikeluarkan juga dalam air seni atau air besar. Saat mengonsumsi pil, obat jalan dari perut ke usus. Dari usus, obat diarahakan ke hati sebelum mengalir ke bagian tubuh yang lain. Jika obat mudah diuraiakan oleh hati, hanya sedikit obat sampai ke tubuh lain.

Ada obat yang memperlambat proses ginjal hal tersebut dapat meningkatkan kadar bahan kimia yang biasanya dikeluarkan oleh ginjal dalam darah. Interaksi obat yang paling umum melibatkan hati. Beberapa obat dapat memperlambat atau mempercepat proses enzim hati. Ini dapat mengakibatkan perubahan besar pada kadar obat lain dalam aliran darah, jika obat tersebut diuraikan oleh enzim yang sama.

Pil apa pun yang kita pakai melalui perut kita. Sebagaian besar obat diserap lebih cepat jika perut kosong. Untuk beberapa obat, ini masalah yang baik, tetapi ini juga dapat mengakibatkan lebih banyak efek samping. Beberapa obat harus dipakai dengan makanan agar mereka diuraikan lebih lambat atau untuk mengurangi efek samping. obat lain harus dipakai dengan makanan berlemak karena obat tersebut melarut dalam lemak, dan jika begitu diserap lebih baik.

Beberapa jenis obat lain yang kemungkinan akan meninbulkan interaksi termasuk: obat anti jamur dengan nama yang diakhiri dengan ‘azol’ (mis. flukonazol) Beberapa antibiotik dengan nama yang diakhiri dengan ‘misin’ (mis. klindamisin) obat antiasam simetidin Beberapa obat yang dipakai untuk mencegah konvulsi, termasuk fenitoin dan karbamazipin Dengan beberapa obat, hanya sedikit kelebihan dapat mengakibatkan overdosis yang bahaya, dan jika jumlah hanya sedikit rendah, obat mungkin tidak berhasil. obat tersebut dikenal dengan ‘indeks terapeutik yang sempit’. Jika kita memakai obat jenis ini, interaksi apa pun dapat gawat atau bahkan mematikan. obat dengan indeks terapeutik yang sempit termasuk: Beberapa antihistamin, termasuk astemizol obat yang mengendalikan denyut jantung Beberapa obat penawar rasa nyeri yang berasal dari opium Kisaprid, yang meningkatkan pengeluaran air besar

Beberapa obat sedatif (penenang), termasuk triazolam obat yang menipis darah obat lain yang harus diperhatikan termasuk obat rekreasional (narkoba). Belum ada penelitian yang teliti terhadap interaksi dengan narkoba, tetapi ada laporan tentang overdosis dan kematian diakibatkan penggunaan narkoba sekaligus dengan obat antiretroviral. Perempuan yang memakai pil KB sebaiknya bicara dengan dokter tentang interaksi obat. Beberapa obat antiretroviral dapat menurunkan kadar obat KB ini, dan menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan.

Menurut Yulia Trisna, Apt., Ada obat-obat yang penyerapannya menjadi diperlambat atau berkurang jika diberikan bersamaan waktunya dengan makanan, sehingga kadar obat yang ada dalam darah bisa tidak mencapai kadar yang dibutuhkan untuk dapat memberikan efek terapi. Antibiotika golongan tetrasiklin dan fluorokuinolon (contoh: siprofloksasin) dengan kalsium yang ada di dalam susu membentuk zat yang tidak larut dan tidak bisa diserap tubuh.

Perlu diketahui bahwa tidak ada obat yang tanpa efek samping. Oleh karena itu setiap obat sebelum dikonsumsi harus dipertimbangkan manfaat-risikonya. Jika manfaatnya lebih besar dari pada risikonya, tentu obat tersebut dapat dipilih.

Obat KB mengandung hormon estrogen dan/atau progesteron. Untuk informasi lebih rinci sebaiknya Anda tanyakan kepada dokter dimana Anda berkonsultasi, karena pemilihan jenis kontrasepsi harus mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan. Efek samping tentu saja dapat dialami akibat penggunaan obat KB, masalahnya apakah efek samping obat tersebut dapat ditoleransi atau tidak.

Sedangkan Ernawati sinaga, menyatakan bahwa hasil kerja obat di dalam tubuh kita memang sangat mungkin dipengaruhi oleh makanan atau minuman yang kita konsumsi. Ini dikenal sebagai peristiwa interaksi obat-makanan. Selain dengan makanan, berbagai obat yang kita konsumsi pada saat bersamaan juga dapat saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi obat-makanan (food-drug interaction) atau interaksi antarobat (drug interaction) ini dapat mengurangi khasiat atau kemanjuran obat, bahkan dapat menimbulkan efek yang membahayakan pasien.

Teh, kopi, susu, tape, atau makanan apa saja yang kita makan berpotensi untuk mengadakan interaksi dengan obat yang kita konsumsi. Sebab itu, minum obat sebaiknya dengan air putih saja, kecuali untuk obat-obat tertentu.

Teh mengandung senyawa tannin yang dapat mengikat berbagai senyawa aktif obat sehingga sukar diabsorpsi atau diserap dari saluran pencernaan. Demikian pula susu. Susu mempunyai sifat dapat menghambat absorpsi zat-zat aktif tertentu terutama antibiotika. Jika obat kurang diabsorbsi, berarti daya khasiat atau kemanjurannya juga akan berkurang. Sehingga penyembuhan mungkin tidak akan tercapai.

Karena itu, jika Anda sedang mengonsumsi antibiotika, misalnya ampisilin, amoksilin, kloramfenikol dan lain-lain, sebaiknya Anda jangan minum susu, apalagi minum obat antibiotika tersebut bersama dengan susu. Jika Anda ingin minum susu juga, sebaiknya tunggu sekitar dua jam setelah atau sebelum minum antibiotika, agar penyerapan obat antibiotika tersebut di saluran pencernaan tidak terganggu.

Tidak semua jenis obat tidak baik dikonsumsi bersama-sama dengan susu. Ada beberapa obat, terutama yang bersifat mengiritasi lambung, justru dianjurkan untuk diminum bersama susu atau pada waktu makan. Gunanya agar susu atau makanan tersebut dapat mengurangi efek iritasi lambung dari obat yang dikonsumsi. Walaupun susu atau makanan dapat sedikit mengurangi daya kerja obat-obat tersebut, namun efek perlindungannya terhadap iritasi lambung lebih bermanfaat dibandingkan dengan efek penurunan daya kerja obat yang sangat sedikit.

Obat-obat seperti ini, contohnya obat-obat antiinflamasi nonsteroid seperti asetosal dan ibuprofen, yang biasa diberikan untuk meredakan atau mengurangi rasa sakit, nyeri, atau demam. Begitu juga obat-obat kortikosteroid yang biasanya digunakan untuk meredakan inflamasi (misalnya bengkak atau gatal-gatal) seperti prednison, prednisolon, metilprednisolon, dan lain-lain.

Bagaimana dengan kopi? Kopi, sebagaimana kita ketahui, mengandung kafein. Kafein bekerja merangsang susunan syaraf pusat. Jadi, agar efek stimulan terhadap susunan syaraf pusat tidak berlebihan, hindari mengkonsumsi bahan-bahan yang mengandung kafein seperti kopi, teh, coklat, minuman kola, dan beberapa merek minuman berenergi (energy drink) ketika Anda sedang dalam pengobatan menggunakan obat-obat yang juga dapat merangsang susunan syaraf pusat seperti obat-obat asma yang mengandung teofilin atau epinefrin.

Walaupun sebagian besar rakyat Indonesia bukan peminum alkohol, patut juga disampaikan disini bahwa ketika Anda minum obat sebaiknya sama sekali berhenti minum alkohol. Alkohol mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap fisiologis tubuh sehingga dapat mengganggu atau bahkan mengubah respons tubuh terhadap obat yang diberikan. Contohnya, obat-obat antihistamin atau antialergi (biasanya diberikan untuk meringankan gejala alergi, flu atau batuk) umumnya menyebabkan mengantuk. Konsumsi antihistamin bersama dengan alkohol akan menambah rasa kantuk dan memperlambat performa mental dan motorik.

Alkohol juga akan meningkatkan risiko perdarahan lambung dan kerusakan hati jika dikonsumsi bersama obat-obat penghilang rasa sakit seperti parasetamol atau asetaminofen. Alkohol juga dilarang diminum bersama dengan obat-obat penurun tekanan darah tinggi golongan beta-blocker seperti misalnya propranolol. Kombinasi alkohol-propranolol dapat menurunkan tekanan darah secara drastis dan membahayakan keselamatan jiwa pasien. Tape, walaupun sedikit, sudah kita ketahui mengandung alkohol, terutama tape ketan atau tape beras. Oleh sebab itu sebaiknya kurangi atau hindari makan tape ketika Anda mengkonsumsi obat-obat yang dapat berinteraksi dengan alkohol seperti yang diuraikan di atas.

Pengaruh makanan atau minuman terhadap obat dapat sangat signifikan atau hampir tidak berarti, bergantung pada jenis obat dan makanan/minuman yang kita konsumsi. Selain itu harus pula difahami bahwa sangat banyak faktor lain yang mempengaruhi interaksi ini, antara lain dosis obat yang diberikan, cara pemberian, umur, jenis kelamin, dan tingkat kesehatan pasien.

Catatan :

  • Nama-nama obat yang disebutkan dalam penjelasan di atas adalah nama zat berkhasiat atau nama generiknya. Untuk mengetahui apakah obat yang Anda konsumsi mengandung senyawa obat tersebut periksalah komposisi obat pada label atau kemasan. Atau, jika obat yang Anda terima berupa racikan, periksalah nama obat yang ditulis dokter dalam resep atau kopi resep yang dapat Anda minta pada petugas di apotek
  • Maaf jika referensinya adalah referensi lama, karena materi ini sebenarnya merupakan salah satu tugas mata kuliah saat kami menjalani pendidikan S-1 di Makassar, Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  1. http://www.i-base.org.uk/itpc/Indonesian/spirita/docs/Lembaran-Informasi/LI419.pdf. Interaksi Obat, Tanggal Akses 1 Juni 2006.
  2. Dra. Yulia Trisna, Apt. Interaksi Obat Dengan Makanan. www.konsultasifarmasi.net, Tanggal akses 1 Juni 2006.
  3. Dr. Ernawati sinaga MS, Apt, Pengaruh Makanan dan Minuman Terhadap Obat, http://republika.co.id/kirim_berita.asp?id=167066&kat_id=105&edisi=Cetak, Tanggal akses 1 Juni 2006

4 comments on “Interaksi Obat dengan Makanan

  1. Akmal Nasution
    28 November 2011

    Pak admin…minta izin copy artikelnya ya…

    • gizimu
      28 November 2011

      silahkan🙂

  2. Lashaunda Weit
    12 December 2011

    Wonderful weblog appropriate here! Furthermore your internet site quite a bit up quite rapidly! What net host are you currently working with? Can I am obtaining your affiliate hyperlink for your host? I wish my web site loaded up as easily as yours lol

  3. lulu
    10 April 2012

    izin share ya admin..
    artikel yg menarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 November 2011 by in Gizi Klinik and tagged .

LINK KE SIGIZI

%d bloggers like this: