GIZIMU

Penelusuran Referensi Pangan dan Gizi

Menghadapi Orang yang Dominan


Kemarin (27-11-2011), saya menerima E-mail dari forum MILIS Fasilitator Indonesia, yang berjudul menghadapi orang yang dominan, pesan ini di dikirimkan oleh saudara Risang Rimbatmaja. Setelah membaca Artikel pendek (bahasa Mas Risang) tersebut, saya tertarik untuk berbagi informasi dengan teman-teman dan semoga saja Mas Risang tidak keberatan, hehehehe…..

Artikel ini sangat bermanfaat buat anda penggiat Gizi, karena pekerjaan anda setiap saat bersentuhan dengan masyarakat yang bukan tidak mungkin akan mengalami kondisi yang digambarakan dalam artikel pendek tersebut.

Artikel pendek tersebut, saya bagikan kepada anda tanpa melalui tahapan paraprase, kontennya masih sama persis dengan isi artikel dari Mas Risang, tujuannya adalah untuk menghindari kesalahan penafsiran dari saya dan saya membuka peluang kepada anda untuk menafsirkan dan mengembangkannya, berikut isi artikel tersebut :

Kadang dalam fasilitasi kelompok, kita menghadapi satu atau beberapa orang yang bicaranya sangat aktif dan kadang mendominanasi pembicaraan kelompok. Dalam situasi seperti itu, ada fasilitator yang kemudian terpancing untuk menghadapi langsung orang seperti itu. Bila sudah terlalu dominan, seperti yang dicontohkan Kaner (2007), tanggapan yang diberikan biasanya, “Maaf pak/ bu, boleh bicaranya bergantian?” atau “Boleh Bapak/ Ibu sekarang memberi kesempatan yang lain?” atau bahkan, “Bapak/ Ibu sudah terlalu banyak bicara, yang lain belum kebagian nih.”

Sam Kaner memberi saran lain, yakni ketimbang fokus pada orang yang dominan, lebih baik memfokuskan usaha pada orang yang kurang berpartisipasi. Dorong mereka untuk berbicara. Karena, ketika kita berusaha merubah yang dominan, maka sesungguhnya kita memberi perhatian lebih pada mereka. J adi , berikan fokus pada yang kurang berpartisipasi.

Dalam pengalaman penulis sendiri, pendekatannya tergantung sekali dengan isi pembicaraan yang dikeluarkan oleh orang yang dominan itu. Bila auranya positif tidak ada salahnya fasilitator dan kelompok menyerap terlebih dahulu aura positif yang dipancarkan. Setelah itu, kita “masuk” dalam pembicaraan si dominan dengan melakukan mirroring dan kemudian paraphrasing, yang pada satu sisi menunjukkan sikap menghargai, namun di sisi lain untuk persiapan “mengambil alih” pembicaraan. Setelah itu, barulah fokus diberikan pada mereka yang kurang berpartisipasi.

Bila yang bersangkutan terus menerus berupaya mendominasi, ada baiknya fasilitator menerapkan struktur yang bisa menjamin ruang partisipasi bagi semua. Semisal, proses dengan metaplan cards, giliran ala meja bundar, tiket/ tongkat bicara, role-play, atau bisa juga dengan, kerja kelompok/ pasangan. 

Yang jelas, menghadapi ybs langsung, dalam pengertian intervensi proses, seperti menasehati secara individual dll, merupakan pilihan terakhir.

Semoga bermanfaat, Salam Gizi.

Sumber : Risang Rimbatmaja (2011), Menghadapi Orang yang Dominan. MILIS Fasilitator Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28 November 2011 by in Diary and tagged .

LINK KE SIGIZI

%d bloggers like this: