GIZIMU

Penelusuran Referensi Pangan dan Gizi

Kuliah Singkat Ibu Hj. Dias


Semalan seorang teman saya di FB Mas Oky Setiarso mengupdate status yang sangat inspiratif, seperti ini isi statusnya :

Persiapan untuk esok hari ‘seminar kewirausahaan bidang gizi di #s1gizi carolus bersama pembicara 1 : Ibu Hj. Mardiastuty. B.Sc- ibu Hj. Dias”

Saya tertarik untuk ikut karena penasaran dengan sosok Ibu Hj. Dias, membaca profile usaha beliau lewat website serasa tidak cukup. Sepertinya saya harus berinteraksi langsung dengan beliau.

Seminar tersebut di luar perkiraan saya, yang saya bayangkan ruangan akan dipenuhi dengan mahasiswa dan pasti saya tidak akan kebagian tempat duduk karena datang terlambat, tapi nyatanya pesertanya tidak lebih dari 40 orang yang terdiri dari staf pengajar dan mahasiswa kampus tersebut, hal tersebut sangat saya sayangkan, karena dengan kualitas pembicara yang luar biasa, harusnya peserta bisa lebih banyak lagi. Mengapa luar biasa, karena selain Ibu Dias, salah satu pembicara adalah Ibu Tuti Soenardi, seorang pakar Gizi Kuliner Indonesia, jika anda penggiat gizi, seseorang yang suka mengoleksi resep-resep makanan, maka nama beliau tidak akan asing lagi, saya akan mengulas profile beliau pada bagian tersendiri.

Siapa Ibu Hj. Dias

Sebenarnya anda bisa membaca profil lengkap beliau di website usahanya (klik gambar disamping), tapi saya mencoba menguraikan secara singkat disini berdasarkan apa yang saya peroleh dari seminar tersebut di atas.

Ibu Hj. Dias, ternyata sudah cukup berumur, saat beliau presentasi ia di dampingi oleh salah seorang anak beliau. Ibu yang memiliki 5 (lima) orang anak ini merupakan pensiunan perawat dari RSCM, dan setelah pensiun, beliau mengabdikan diri sebagai kader posyandu, sebuah keputusan yang luar biasa. Dari pengalaman selama menjadi kader posyandu inilah beliau merintis usaha yang saat ini sudah memiliki sekitar 140 agen yang tersebar di JABODETABEK.

Awal usaha Ibu Hj. Dias

Pada tahun 2003, Ibu Hj. Dias prihatin melihat banyaknya masalah gizi buruk di Indonesia, maka saat itu beliau tergerak untuk membuat bubur sehat dan bergizi yang pada awalnya hanya peruntukkan untuk anak balita di Posyandu yang beliau kelola. Gayung bersambut, ternyata banyak anak balita yang menyukai bubur buatan beliau. Bersama dengan ke-5 anaknya, usaha bubur bayi Ibu Hj. Dias terus berkembang, dan sebagai wujud tanggungjawab terhadap produk dan konsumen, usaha ini telah mendapatkan sertifikat merk dari Kementrian Hukum dan HAM.

Bagimana bentuk usaha Ibu Hj. Dias

Menurut saya konsep usaha ini cukup sederhana, tapi efeknya luar biasa. Usaha bubur bayi Ibu Hj. Dias, hanya menyediakan bubur bayi untuk anak umur 6 bulan ke atas, dengan siklus menu 7 (tujuh) hari dengan variasi menu yang beraneka ragam, nilai energi dari produk yang dijual sekitar 150-230 kkal/porsi.

Dalam menciptakan resep yang dipasarkan, Ibu Hj. Dias berulangkali mengalami kegagalan, butuh waktu yang cukup lama sehingga beliau mendapatkan resep yang ideal, tentu saja melalui serangkaian uji coba yang beliau lakukan sendiri. Beliau juga hanya manfaatkan promosi lewat mulut ke mulut. Untuk lebih jelasnya silahkan baca di website beliau (klik gambar di atas)

Pesan Buat Penggiat Gizi

Saya sebenarnya sangat malu dengan apa yang telah dilakukan oleh Ibu Hj. Dias. Secara teori saya faham betul berapa banyak yang harus di konsumsi seorang balita mulai lahir sampai ia tua, dan bahan makanan apa yang sebaiknya mereka konsumsi, tapi sayangnya pengetahuan yang saya miliki hanya sekedar teori. Saya belum mampu memanfaatkan pengetahuan yang saya miliki untuk bisa menghasilkan sesuatu (tambahan income).

Wacana untuk menjadi seorang wirausaha gizi sudah lama di kampanyekan di kampus saya, bahkan menjadi salah satu mata kuliah wajib, akan tetapi mind set menjadi seorang abdi negara sangat kuat, sehingga ilmu yang satu ini tidak pernah di eksplore (termasuk saya). Saya sangat yakin, salah satu tujuan teman-teman di STIK ST. Carolus menyelengggarakan seminar kewirausahaan ini untuk merubah mind set yang keliru itu.

Mengapa kemampuan wirausaha ini tidak tereksplore?, hal tersebut disebabkan karena yang ada dipikiran kawan-kawan Mahasiswa atau Alumni Gizi, wirausaha dibidang penyelenggaraan makanan itu hanya katering, warung sehat, hotel dan restoran. Dimana semua bidang usaha itu membutuhkan modal cukup besar yang belum tentu bisa dimiliki oleh mereka.

Usaha bubur bayi Ibu Hj. Dias membawa semacam ide segar buat penggiat gizi, bahwa terdapat target pasar yang belum banyak digarap dengan modal yang sedikit dapat menghasilkan income yang luar biasa.

Banyak diluar sana ibu-ibu bekerja yang tidak sempat menyiapkan makanan buat anak mereka dan lebih memilih memberikan bubur Instant. Keberadaan bubur bayi sehat buatan rumah akan menjadi alternatif yang bagus buat mereka. Pesan dari Ibu Hj. Dias “usaha dimulai dari kecil dan akan berhasil bila serius, disiplin dan konsisten”, kata-kata yang sangat inspiratif.

Saudaraku, semoga setelah membaca uraian singkat di atas, bisa menggugah anda (termasuk saya) untuk mengeksplore pengetahuan dan keterampilan yang kita miliki, agar bisa lebih berdaya guna.

Semoga bermanfaat, Salam Gizi

I would like to say thanks so much for my friend Oky Setiarso for your assistance.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 December 2011 by in Diary and tagged , .

LINK KE SIGIZI

%d bloggers like this: