GIZIMU

Penelusuran Referensi Pangan dan Gizi

30 Menit Bersama Ibu Tuti Soenardi


GIZIMU[dot]COM | Hari ini (9 Desember 2011), saya sangat beruntung bisa bertemu dengan salah satu Senior penggiat Gizi Kuliner, siapa lagi kalau bukan Ibu Tuti Soenardi. Meskipun beliau tidak mengenal saya (heheheh….kacian dech loh) dan tidak sempat foto-foto (heheheh….narsis) tapi lumayanlah bisa mendengar cerita tentang pengalaman hidup beliau. Rasanya hidup ini kembali bersemangat untuk bisa berbuat lebih banyak pada masyarakat.

Ibu tuti menceritakan banyak hal pada kesempatan itu, tapi saya cuma akan menguraikan kepada anda beberapa bagian saja, dengan harapan semoga kita sebagai generasi muda bisa mengambil hikmah dari pengalaman hidup beliau.

Siapa ibu Tuti Soenardi

Beliau adalah salah seorang tokoh senior yang mengabdikan dirinya dalam ilmu gizi kuliner. Meskipun hanya lulusan Diploma gizi (BSc) yang tamat sekitar tahun 50-an, keterampilan beliau didukung dengan kursus-kursus kuliner di luar negeri, seperti Paris, Thailand dan Bangkok. Beliau merupakan salah satu pendiri Yayasan Kuliner Indonesia (YKI), sejak awal tidak pernah menjadi PNS, hampir keseluruhan hidup beliau abdikan di YKI bersama dengan beberapa timnya. Klik FOTO beliau disamping untuk membaca profil lengkap.

Pesan Ibu Tuti Soenardi buat penggiat gizi

Pada kesempatan itu, ibu Tuti mengatakan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh alumni gizi itu sangat lengkap, mulai dari ilmu gizi, kuliner, dietetik, manajemen, kewirausahaan dan lain-lain, yang kurang adalah mengaplikasikan kemampuan yang dimiliki.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa teori itu harus diaplikasikan agar anda bisa mendapatkan pengalaman, berangkat dari pengalaman itulah seseorang dapat terus berkembang. Masalahnya kemudian adalah PENGALAMAN itu tidak ada sekolahnya dan tidak mungkin ada sekolanya, jadi harus dijalani sendiri. Pertanyaannya kemudian apakah anda punya niat untuk menjalaninya? Kalau niat saja tidak punya, bagaimana mungkin teori yang anda miliki bisa diaplikasikan dan sudah pasti anda tidak akan memiliki pengalaman apapun.

Seseorang bisa berinovasi karena ia jeli melihat peluang, ia mampu mengamati dan mengetahui apa yang ada disekitarnya dan apa yang dibutuhkan, dari proses identifikasi itulah maka muncul inovasi-inovasi terbaru. Sikap seperti ini juga harus dimiliki oleh penggiat gizi.

Salah satu kelebihan beliau adalah kemampuan beliau menulis buku, sudah puluhan buku-buku bertemakan gizi dan kuliner beliau hasilkan, bahkan terdapat satu buku yang hampir 13 tahun lamanya masih menjadi Best Seller (gambar sampul buku disamping), luarrrrr biasa. Apa pesan beliau soal menulis buku?, beliau mengatakan bahwa “Menulis tanpa buku tidak akan menarik, anda harus memiliki puluhan atau bahkan ratusan buku referensi untuk menghasilkan tulisan yang menarik dan berbobot”. Sangat inspiratif, lalu pertanyaan saya (gizimu[dot]com) kepada para penggiat gizi, sudah berapa banyak buku referensi gizi yang anda miliki? Mari mengintrospeksi diri kita masing-masing.

Akhirnya beliau menutup sesi penyajian materi dengan mengatakan bahwa prinsip hidup beliau adalah “senang bekerja keras dan menyenangkan orang lain”. Kepuasan terbesar beliau adalah kepuasan batin bukan kepuasan duit.

Semoga penggiat gizi bisa mengambil pembelajaran dari pesan-pesan singkat di atas, Salam Gizi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 December 2011 by in ARTIKEL, Diary and tagged .

LINK KE SIGIZI

%d bloggers like this: