GIZIMU

Penelusuran Referensi Pangan dan Gizi

Jangan Biarkan Perempuan Sendiri


Sore ini, seperti biasa saya lagi memantau Group AYAH ASI, sekedar untuk melihat apakah ada Ayah ASI di luar sana yang ingin bergabung, nah betul dugaan saya salah seorang Ayah ASI meminta untuk bergabung, yang menarik adalah sesaat setelah saya menerima permintaannya ia mengirimkan sebuah tulisan yang sangat inspiratif.

Hasanudin Abdurakhman nama Ayah ASI itu, saya mencoba menelusuri profilenya, dan ternyata Kang Hasan (nickname) juga seorang blogger, anda bisa membaca celotehannya di Berbual.com.

Apasih yang diposting Kang Hasan di Ayah ASI?

Kang Hasan memposting sebuah tulisan singkat tapi sarat dengan makna dengan judul “Jangan Biarkan Perempuan Sendiri”, tulisan ini sesungguhnya diperuntukkan buat mereka yang sudah memutuskan untuk berkeluarga atau lebih luas lagi bagi anda yang belum memutuskan untuk melakukan hal tersebut juga wajib membaca celotehan Kang Hasan ini. Mari kita simak bersama :

Jangan Biarkan Perempuan Sendiri

Ada hal penting yang sering kali kita abaikan pada perubahan pola hidup kita, yaitu bahwa kita bukan lagi orang desa. Banyak hal mendasar yang berubah mengikuti perubahan ini, salah satunya adalah soal kebersamaan. Waktu kakak-kakak saya melahirkan, khususnya anak pertama, mereka berada tak jauh dari Emak. Otomatis Emak member dukungan penuh terhadap perawatan bayi dan kakak saya sendiri. Karena itu beban yang ditanggung jadi sangat berkurang. Bantuan Emak tidak sekedar meringankan tugas kakak secara fisik, tapi juga secara mental. Kehadiran Emak adalah dukungan psikologis yang sangat berarti. Dalam menghadapi berbagai beban kakak saya tidak merasa sendiri.

Keadaan menjadi berbeda secara ekstrim saat anak pertama kami lahir. Waktu itu kami sedang bermukim di Kumamoto, Jepang. Tidak hanya jauh dari keluarga, istri saya khususnya harus berhadapan dengan iklim, bahasa, serta orang-orang yang asing bagi dia. Situasi ini membuat beban yang harus dihadapi istri saya meningkat empat sampai lima kali lipat dibanding dengan kakak-kakak saya saat melahirkan anak pertama. Dalam situasi itu tidak ada pilihan lain bagi saya kecuali terlibat secara total dalam perawatan anak kami.

Berbagai pengalaman dari interaksi dengan keluarga dan teman mengajarkan pada saya bahwa perempuan mengalami masa sulit setelah melahirkan anak. Secara fisik mereka sudah membawa beban tambahan yang tidak ringan sejak kehamilan. Lalu disusul dengan rasa sakit yang luar biasa saat melahirkan. Dalam keadaan masih sakit dan lemah mereka harus menyusui dan merawat anak.

Secara psikologis, khususnya pada anak pertama, melahirkan dan merawat anak adalah dunia yang sangat baru bagi banyak wanita. Tidak sedikit yang mengalami ketakutan. Takut karena tidak tahu harus berbuat apa, takut gagal menjadi ibu yang baik, dan sebagainya. Di satu sisi melahirkan juga bisa menjadi sumber semangat, karena banyak hal-hal yang menggugah emosi positif dari interaksi dengan bayi yang baru lahir.

Dalam situasi tersebut peran suami sangat penting. Peran yang paling penting adalah member rasa nyaman kepada istri, membuat dia yakin bahwa dia tidak sendiri. Bentuknya bisa bermacam-macam. Intinya adalah menegaskan kepada istri bahwa apapun kesulitan yang dia hadapi bisa diselesaikan berdua.

Banyak hal bisa dilakukan suami. Mulai dari hal kecil seperti membantu menyiapkan air hangat untuk mandi bayi, melipat dan merapikan pakaian bayi, lalu hal-hal lain yang lebih sulit, seperti mengganti popok atau memandikan bayi. Memasak makanan buat istri juga bisa menjadi sebuah dukungan yang sangat penting bagi istri.

Sayangnya masih banyak suami yang enggan melakukan tugas-tugas itu. Banyak yang merasa bahwa itu bukan tugas dia, itu adalah tugas perempuan. Ada pula yang sejak awal sudah menyerah pada dalih “saya tidak bisa”. Yang lain beralasan sibuk. Namun yang terpenting dari segalanya adalah kurangnya kesadaran bahwa kehidupan pasca melahirkan bagi seorang perempuan itu sungguh berat, dan keadaan sudah berubah :istri kita tak lagi mendapat dukungan penuh dari keluarga (ibu dia) seperti jaman dulu.

Ingatlah. Untuk apa sih kita menikah? Salah satu tujuannya adalah punya anak. Lantas apakah kita puas dengan hanya punya anak? Tidak. Kita ingin anak kita tumbuh sehat dan cerdas. Itu semua dimulai dari perawatan yang baik di hari pertama kehidupan mereka. Nah, mungkinkah anak-anak kita tumbuh sehat dan cerdas bila ia dirawat oleh seorang ibu yang lelah kehabisan tenaga, dan depresi?

Banyak laki-laki yang canggung merawat anak, lalu menyerah. Tapi sebenarnya tak ada yang sulit. Leluhur kita sudah mengajarkan satu kalimat penting, “alah bisa karena biasa”.

Semoga bermanfaat, Terima kasih buat Kang Hasan yang sudah berbagi celoteh singkat dan penuh makna ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 15 December 2011 by in ARTIKEL, Diary and tagged .

LINK KE SIGIZI

%d bloggers like this: