GIZIMU

Penelusuran Referensi Pangan dan Gizi

Mereka Sudah Tau, Tapi Belum Faham


Saat ini saya akan berbagi dengan anda tentang pengalaman saya mengikuti kegiatan workshop Blogging & Awarding Go Vlog Aids kerjasama VIVAnews bersama AusAid dan Google Asia. Kegiatan ini terdiri dari dua sesi materi yaitu sesi pertama membahas tentang “Meningkatkan kesadaran HIV/Aids di kalangan remaja” dan sesi kedua membahas tentang “Optimalisasi traffic dan adsense dalam blog”.

Sesi pertama menampilkan 4 (empat) orang pemateri, yaitu Mba’ Wenita Indrasari (KPAN), Mba’ Jenar M. A (Novelis), Mba’ Kheista (Rumah Cemara) dan Mas Enda Nasution (Blogger). Sesi kedua menampilkan 3 (tiga) orang pemateri, 2 (dua) dari Google dan satu dari Pratisi SEO.

Pada bagian ini saya hanya ingin menguraikan materi pada sesi pertama saja, sedangkan ulasan tentang sesi kedua akan kami urai pada bagian tersendiri.

Mereka Sudah Tau, Tapi Belum Faham

Kalimat tersebut di atas cukup untuk menggambarkan bagaimana sikap remaja di Indonesia tentang HIV/Aids. Saat anda menanyakan, apa yang mereka ketahui tentang HIV/Aids, maka jawab spontan yang muncul pada umunya adalah : “penyakit terlarang” atau “penyakit yang belum ada obatnya” atau “Penyakit karena ganti-ganti pasangan”, dll. Tapi ketika anda menanyakan “bagaimana penularan penyakit itu?”, atau “apakah penyakit akan tertular lewat jabat tangan, berbagi alat makan atau ngobrol bareng?”, maka anda tidak akan menemukan jawaban yang memuaskan, karena sangat sedikit remaja yang memiliki pemahaman yang tepat tentang penyakit ini. Menurut penuturan bapak perwakilan dari Kemenkes RI, menyatakan bahwa berdasarkan data yang ada, kurang dari 20% remaja di Indonesia memiliki pemahaman yang rendah tentang HIV/Aids.

Kondisi inilah yang coba di tangani oleh Pemerintah melalui Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPAN), mereka telah merumuskan sebuah road map dengan target bahwa pada tahun 2014, paling tidak 95% remaja di Indonesia sudah faham tentang HIV/Aids. Rencana aksinya akan dijabarkan dalam bentuk beberapa program aksi, seperti intergasi materi HIV/Aids ke dalam kurikulum sekolah, pendidikan sebaya, dll.

Akan tetapi, saya melihatnya, ini akan menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat buat Pemerintah. Saya telah berinteraksi dengan aktifitas edukasi HIV/Aids sejak tahun 1996, dan hasilnya ya.. gitu-gitu saja, tidak ada peningkatan yang signifikan. Mengapa?, saya curiganya karena program yang ada selama ini cenderung sporadis, tidak bersifat holistik dan tidak berkelanjutan.

Banyak program fokus menggarap kelompok remaja, melalui pendampingan sebaya, dll, khususnya remaja yang berisiko tinggi, tetapi mengabaikan atau tidak melibatkan orang tua dan guru pada saat yang bersamaan. Padahal lapis kedua yang rentan memberikan informasi yang keliru kepada remaja adalah orang tua dan guru. Pengetahuan yang tidak menyeluruh atau tuntas tentang HIV/Aids pada ketiga elemen ini (teman, orang tua dan guru) menyebabkan situasi ini layaknya lingkaran setan yang tak berujung pangkal.

Nah, kesimpulannya, jika Pemerintah atau penggiat HIV/Aids menjalankan edukasi tentang penyakit ini, maka harus melibatkan ketiga komponen tersebut di atas secara bersamaan, tidak boleh parsial dan memastikan bahwa mereka sesungguhnya sudah faham dan tidak sekedar tau.

Peran Blogger

Sebelum saya berangkat ke tempat acara Workshop, saya sempat membuat satu artikel singkat tentang pentingnya peran Blogger dalam kegiatan edukasi masyarakat (baca disini). Dugaan saya cukup tepat, apa yang di urai pada sesi pertama tersebut, paling tidak sudah tergambar pada artikel singkat saya.

Kesimpulannya adalah, kedepan, pengambil kebijakan atau pelaksana program tidak boleh memandang sebelah mata keberadaan para blogger, karena mereka memiliki target pasar tersendiri dan tidak mengenal batas , waktu dan usia.

Hanya saja yang menjadi perhatian adalah, dibutuhkan “kejujuran” dan sikap tanggungjawab dari blogger untuk menyajikan informasi yang tepat dan tidak menyesatkan, dan ini adalah salah satu pekerjaan rumah lainnya yang harus dibenahi bersama.

Semoga bermanfaat, salam Gizi.

4 comments on “Mereka Sudah Tau, Tapi Belum Faham

  1. GaL
    21 December 2011

    Mari kita maksimalkan penggunaan SocMed sebagai media campaign🙂

    Join Fan Pages VIVAlog
    Best Regards, Gal’s

    • gizimu
      21 December 2011

      kampanye positive lewat sosmed harus semakin di giatkan🙂

  2. MAPPARENTA
    21 December 2011

    Ngeri shi kalau bahas HIV/Aids prosesnya, hanya orang munafik yang tidak bilang asik. tapi itu bom waktu yang pasti akan meledak. moga aja radiasinya tidak kemana-mana lagi. Dan ingat jauhi HIV/AIDS bukan orangnya. Selain harus diberikan penjelasan dampaknya di dunia juga dosanyanya, karena dosanyanya kayaknya sudah jadi nomor ke 7 hehehe

    • gizimu
      21 December 2011

      Tojeng sekalia daeng, tapi lebih bijak kalau kita menempatkan penyakit ini dengan posisi yg sama dengan penyakit lainnya, agar org2 yg ODHA tidak terus mendapatkan diskriminasi terus menerus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 December 2011 by in ARTIKEL, Diary, Remaja and tagged .

LINK KE SIGIZI

%d bloggers like this: