GIZIMU

Penelusuran Referensi Pangan dan Gizi

Budaya Parcel saat Ujian


Gizimu[dot]com | Anda pasti pernah mengalami saat-saat menegangkan dalam menghadapi ujian Karya Tulis Ilmiah (Diploma), Skripsi (Sarjana) atau Thesis dan disertasi. Kondisi menegangkan tidak hanya disebabkan oleh perasaan was-was tentang pertanyaan yang akan di lontarkan oleh penguji, akan tetapi juga banyaknya waktu yang terbuang untuk memikirkan dan mempersiapkan hal-hal non teknis seperti sajian makanan yang harus di persembahkan pada saat ujian yang biasanya dalam bentuk parcel, dll.

Kapan budaya itu muncul?

Saya tidak tau pasti kapan budaya itu mulai diperkenalkan, yang jelas saat saya menempuh pendidikan Diploma III di salah satu kampus di Makassar, perilaku tersebut sudah ada, meskipun masih dalam kualitas apa adanya. Saat itu saya Cuma menyajikan teh botol dan roti Maros ke penguji dan pembimbing saya, itupun roti Maros yang saya sajikan masih dalam bungkus aslinya (menggunakan koran).

Mengapa saya pilih roti maros? Ada 2 (dua) alasan utama saya, yaitu kebetulan penelitian saya menganggkat topik Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB) pada industri roti Maros, dan yang kedua saya tidak punya cukup uang untuk membeli parcel dengan harga wah, heheheh…….

Kondisi kembali berulang saat saya menempuh pendidikan S-1 di salah satu perguruan tinggi di Kota Makassar, saya tidak mau direpotkan dengan urusan parcel dkk, saat itu saya cuma memberikan uang sekitar ratusan ribu rupiah ke pengelola kampus untuk menyediakan makanan atau apalah saat saya ujian.

Kondisi berbeda saya dapatkan saat menempuh pendidikan S-2 di salah satu kampus di Jakarta, saya tidak perlu lagi disibukkan dengan urusan parcel, dkk karena di kampus tersebut, budaya seperti itu tidak dikenal, konsumsi berupa snack dan air mineral sudah disiapkan oleh pihak kampus dan saya punya banyak waktu untuk mempersiapkan mental menyambut ujian

Budaya Parcel, Saatnya Dihentikan

Tidak ada kata lain kecuali kata HENTIKAN, budaya tersebut sangat tidak mendidik dan membebani mahasiswa. Tidak semua mahasiswa memiliki kondisi ekonomi yang sama, kasihan bagi mereka yang memiliki kondisi ekonomi yang pas-pasan, sementara lingkungan menuntutnya melakukan hal demikian.

Jujur saya katankan bahwa tidak ada satupun dosen yang menginginkan kondisi tersebut, akan tetapi tidak ada juga yang berani berbicara lantang untuk menghentikan budaya itu. Pengelola pendidikan sebaiknya mulai memikirkan jalan keluar dari persoalan ini dan sebaiknya tidak dibiarkan semakin menjadi-jadi.

Bagaimana bentuk parcel anda saat ujian?, mari berbagi cerita dengan kami.

Semoga bermanfaat, Salam Gizi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 12 February 2012 by in ARTIKEL, Diary and tagged .

LINK KE SIGIZI

%d bloggers like this: