GIZIMU

Penelusuran Referensi Pangan dan Gizi

Konselor ASI, Pahlawanku


Gizimu[dot]com | Konselor laktasi atau konselor ASI adalah mereka yang pernah mengikuti pelatihan konselor dengan menggunakan modul 40 jam yang diterbitkan oleh WHO, mereka bukan hanya tenaga kesehatan, akan tetapi masyarakat umum bahkan ibu rumah tangga, banyak yang berpartisipasi dan telah menyandang predikat sebagai konselor ASI.

Banyak organisasi di Indonesia yang telah menyelenggarakan pelatihan-pelatihan konselor ASI secara rutin, antara lain Sentra Laktasi Indonesia (SELASI), Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), dll, bahkan beberapa Pemerintah Provinsi, Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan misalnya, mereka rutin menyelenggarakan pelatihan Konselor ASI setiap tahun dengan menggunakan modul 40 jam tersebut.

Kuantitas versus Kualitas

Berdasarkan informasi yang saya peroleh, bahwa jumlah konselor ASI di Indonesia sekitar 3 ribuan orang, sedangkan di Sulawesi selatan sendiri sudah berjumlah sekitar 3 ratus orang, yang tersebar merata di setiap kabupaten dan Puskesmas, hampir tidak ada puskesmas di Sulawesi selatan yang tidak memiliki konselor ASI.

Permasalahannya kemudian ialah, setelah mereka mengikuti pelatihan Konselor ASI, apakah mereka sudah menjalankan tugas sebagai konselor?. Mungkin jawabnya lebih banyak TIDAK, karena berdasarkan penelusuran saya di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, masyarakat atau lebih khusus ibu balita tidak pernah mendengar istilah Konselor ASI atau Konselor Laktasi, mendengar saja tidak pernah apalagi mengetahui seperti apa sosoknya dan apa saja tugasnya.

Terdapat beberapa alasan mengapa konselor ASI tidak dikenal, khususnya bagi petugas kesehatan yang pernah mengikuti konselor ASI, antara lain :

  1. Tidak ada uraian tugas yang jelas mengenai konselor ASI
  2. Tidak ada mekanisme pelaporan terhadap aktifitas konselor ASI
  3. Aktifitas konselor ASI bukan merupakan salah satu indicator kinerja bagi petugas kesehatan
  4. Saat mereka turun ke lapangan, mereka tidak pernah memperkenalkan diri sebagi konselor ASI (terkonfirmasi).
  5. Dugaan sementara saya, banyak konselor ASI yang tidak memiliki kepercayan diri yang cukup dengan status sebagai konselor ASI.

Bagaimana sebaiknya?

Untuk mengatasi kondisi tersebut di atas, maka dibutuhkan sebuah usaha yang serius dan sistematik untuk memanage konselor ASI yang cukup banyak khususnya di Sulawesi Selatan, langkah-langkah starategis yang mungkin bisa kita lakukan adalah antara lain : Mempercepat pembentukan wadah paguyuban atau asosiasi konselor ASI, tugas dari wadah ini adalah antara lain :

  1. Memonitor dan melakukan advokasi terhadap konselor ASI
  2. Menjadikan aktifitas konselor ASI sebagai salah satu indicator kinerja pada petugas kesehatan
  3. Melakukan pertemuan-pertemuan rutin untuk mengetahui dan mencari jalan keluar bagi permasalahan yang dihadapi oleh konselor ASI di lapangan
  4. Melakukan upgrading secara rutin untuk meningkatkan kemampuan konselor.
  5. Pembuatan hotline yang bisa di hubungi oleh masyarakat 1 x 24 jam

Eksistensi konselor ASI di masyarakat sangat dinantikan agar semakin banyak ibu yang terbantukan dan termotivasi untuk membrikan ASI Eksklusif terhadap anak-anak mereka, karena konselor ASI adalah pahlawan, pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan yang menyelamatkan nasib generasi bangsa untuk 10, 20 atau mungkin 100 tahun kedepan.

Semoga bermanfaat, salam gizi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19 April 2012 by in ARTIKEL, Diary and tagged .

LINK KE SIGIZI

%d bloggers like this: